Berjibaku dengan kerasnya kehidupan acapkali membuat banyak orang kehilangan kesabaran. tanpa sadar kita terus mengeluh. Di mana kesabaran yang seharusnya menjadi pelapis hati kita di saat menghadapi berbagai cobaan itu? Semoga melalui sekilas cerita ini kita bisa kembali menemukan si sabar itu dan melanjutkan perjalanan menuju keberhasilan.
Suatu hari seorang biksu muda di sebuah kuil sedang menemui gurunya. Sang guru berkata,"anakku kau hampir mencapai tingkat tertinggi dari seluruh ajaranku. sebagai akhirnya kamu harus mempelajari kesabaran''. Biksu muda yang terkenal sangat cerdas tapi temperamental itu kemudian menyambut penuh kegembiraan,"baiklah guru, aku sudah tidak sabar untuk mempelajarinya. kapan pelajaran itu akan di mulai guru?" Sembari berlalu sang guru berkata, "esok pagi pelajaran itu akan dimulai!"
Keesokan pagi sang guru mengajak si Biksu muda mengikutinya ke sebuah ruangan. Di ruangan itu sang guru menyuruhnya duduk, sementara ia bertapa, sedangkan si Biksu muda tidak diperintahkan melakukan apa-apa. Ia merasa sangat bosa.
Biksu muda lantas bertanya kapan dimulai pelajaran tentang kesabaran itu. "Tunggu sebentar saya sedang memikirkan caranya. Sembari menunggu kamu tolong ambilkkan saya minuman," jawab guru. Dengan sigap biksu muda menganbil secangkir minuman, wajahnya tampak gemas, karena sang guru meminum airnya dengan sangat perlahan dan lama.
Setelah minuman habis, ia meminta biksu muda untuk mengambil sebuah buku. Dengan semangat biksu muda berlari dan memberikan pada sang guru." Bukan buku ini yang aku maksud. Buku itu berwarna merah bergaris biru di tengahnya," kata guru". Sudah dua jam guru membolak-balik lembar demi lembar dan biksu muda makin terlihat tidak sabar."Adakah pelajaran sabar di buku itu guru ?" lalu di jawab, "Coba kamu ambil buku lain yang ada di rak paling pojok dari lemari saya".
Kali ini buku yang dibawanya lebih tebal. setelah dua jam menghabiskan waktu, si biksu muda merasa tidak sabar."Saya rasa pelajaran sabar tidak ada di buku itu guru!" Dengan wajah tenang sang guru berkata " hmm.... saya perlu mempelajarinya dan itu perlu memakan waktu. Saya rasa saya tidak bisa mengajarimu hari ini," dengan langkah gontai biksu muda meninggalkan sang guru.
Keesokan pagi hal yang sama terulang kembali. kali ini sang guru meminta biksu muda untuk menemaninya seharian melkukan aktivitas sosial di sebuah desa. Di sela acara biksu muda kembali bertanya" kapan kita akan belajar kesabaran guru?'' Guru menjawab,"besok." ada saja yang di buat sang guru untuk menunda pelajaran kesabaran hingga si biksu muda akhirnya mengeluh dan marah.
"Sadarkah kamu bahwa selama kita bersama saya telah mengajarkanmu kesabaran. Saya melatih kamu bersabar untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Saya menyuruhmu berkali-kali yang kamu rasa tidak ada hubungannya dengan kepentinganmu, kamu harus sabar. sesungguhnya pelajaran itulah yang dinamakan kesabaran, sayangnya kamu belum lulus."
Pembaca sekalian, coba renungkan sesaat. Mengapa kita seringkali mengeluh tentang proses sebuah pekerjaan yang kita lakukan, padahal kita tau proses ini penting untuk hasil yang lebih baik? ketahuilah pembaca yang budiman, saat Anda fokus terhadap sebuah cita-cita, target atau hasil yang ingin di capai semua kelelahan, kesedihan dan tantangan itu akan terbayar lunas. sabarlah menjalankan semua kerja keras Anda secara konsisten maka Anda akan mengecap manisnya keberhasila.
sumber: majalah inspirasi MACF group. Edisi maret-mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar