MENCINTAI BERARTI MENEMPATKAN KEBAHAGIAAN ORANG YANG KITA CINTAI DIATAS KEBAHAGIAAN DIRI KITA SENDIRI
(GOTTFRIED VON LIEBNITZ)
Menerima Apa Adanya
Seorang pria dan kekasihnya menikah, dan acara pernikahannya berlangsung sangat megah. Semua kawan-kawan dan keluarganya hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.
Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya, dan pengantin pria dalam balutan tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang pasti akan sangat setuju untuk mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian sang istri berkata kepada suaminya, “ sayang, aku baru membaca sebuah artikel dalam sebuah majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan,” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. “masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana cara untuk merubah hal-hal tersebut dan membuat ikatan pernikahan kita akan semakin kuat dan lebih bahagia”. Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal yang tidak mereka sukai dari pasangannya dan berjanji untuk tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik, sebab hal tersebut untuk kebaikan mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap untuk mendiskusikannya.
Keesokan harinya mereka pun siap untuk mendiskusikannya. “ aku mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang di tulisanya, sekitar 3 halaman.
Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tak ia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa air mata suaminya mulai mengalir. “ maaf, apakah aku harus berhenti?” tanyanya. “ oh tidak, lanjutkan “ jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan daftarnya, lalu ia kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia “ sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.
Dengan suara perlahan suaminya berkata “ aku tidak mencatat sesuatu pun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri , engkau cantik dan baik bagiku. Tak satupun dari pribadimu yang kurang bagiku.
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya, ia menunduk dan menangis.
Pesan moral:
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan , depresi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan waktu untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bias menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita?. Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melilhat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
Cinta tak pernah memandang kekurangan orang yang kita sayangi dan kita cintai. Cinta hanya akan membawa kebahagiaan dan saling berbagi untuk memahami kekurangan masing-masing. Mencintai dengan apa adanya. Cinta tak pernah menyakiti, cinta yang sebenarnya adalah menambah kedewasaan dan cara berpikir kita untuk memandang hidup, sebagai kasih karunia Tuhan yang terbaik. Cintailah semua mahluk dengan harapan semua akan berbahagia karenanya.
Sumber: wattpad for mobile
Tidak ada komentar:
Posting Komentar