CINTA

Kamis, 10 Maret 2011

JANJI


Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, ”berapa lama lagi kamu baca koran itu? tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”


Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta…” agak ragu2 sejenak… “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab, “Oh pasti sayang”.

Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah?”

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu menjawab, “jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin /dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata, “permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!” Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, “tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “janji kita harus ditepati.”

Secara serentak istri dan ibuku berkata, “apakah aku sudah gila?”

“Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.”

“Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “anak anda , Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis melihat tidakan anakku untuk memberikan semangat pada temannya, oh Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

KONTES KECANTIKAN


Sebuah perusahaan produk kecantikan yang sukses meminta orang2 untuk mengirim surat singkat tentang wanita-wanita cantik yang mereka kenal. Dalam beberapa minggu banyak foto yang masuk ke perusahaan itu.

Salah satu surat itu menarik perhatian para karyawan perusahaan tersebut, dan surat itu pun disampaikan kepada presiden direktur. Penulisnya adalah seorang laki2 yang berasal dari keluarga broken home, dan tinggal di wilayah kumuh. Berikut ini adalah cuplikan suratnya

diujung jalan, tidak jauh dari rumahku, tinggal seorang wanita cantik. aku mengunjunginya tiap hari. Ia membuatku merasa menjadi anak paling penting di dunia. Kami suka main checker dan ia mau mendengarkan masalah-masalahku. Ia bisa memahamiku dan kalau aku pulang, ia selalu berseru dari gerbang kalo ia bangga akan diriku 

Si anak mengakhiri suratnya dan berkata "di foto ini bisa dilihat bahwa dialah wanita yang paling cantik bagiku, mudah2an aku punya istri secantik dia nanti"

Merasa terkesan oleh suratnya sang Presiden direktur minta melihat foto wanita tersebut. Sekretarisnya menyodorkan foto wanita tua yang ompong, duduk sambil tersenyum di sepatu roda. Rambutnya yang jarang dan beruban disanggul ke belakang. Binar2 di matanya menutupi kerut di wajahnya.

"Kita tidak bisa menggunakan foto ini", kata sang Presiden direktur sambil tersenyum. "sebab ia bisa menunjukkan pada dunia bahwa untuk menjadi cantik, orang tidak perlu menggunakan produk kita"


Chicken soup for the soul

Senin, 07 Maret 2011

MINUS 10 PLUS 100

PENGEN BAGI2 CERITA MENARIK, BWT YG PUNYA CERITA TOLONG BAGI2 YA.
YG INI DI JAMIN UAPIK TENAN BRO.
SELAMAT MEMBACA......

.......................
Dear Diary,

Hai Di, udah lama Vella ngaak nulisin kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. 
Tadi pagi Vella ma temen2ngomongin cowok masing-masing.
Di masih inget Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh ma dia. Dia soalnya gak kayak cowok2 
temen Vella yg lain Di.
Sebel deh ma Evan, bayangin deh Di semua minusnya Evan nih yah:

Minus 10 karena Dia nggak punya handphone!!! Padahal cowok2 temen Vella yang
lain punya handphone.

Minus 10 karena Dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena Dia belum 17 tahun, padahal cowok2 temen Vella yg lain biar sama2 SMP udah boleh bawa sendiri!!!!

Minus 10 karena Dia itu rambutnya cuma cepak biasa, padahal cowok2 temen
Vella yg lainya itu rambutnya gaya abiss..

Minus 10 karena Dia itu nggak suka ke tempat2 dugem Di, padahal aku kan suka banget ke sana, malu banget gak sih
punya cowok kayak gitu.

Minus 10 buat Dia lagi Di ! karena dia nggak punya satu pun jacket XSML.

Padahal cowok2 temen Vella yg lain sering banget belanja di sana. Kalau Dia sih
paling pakek bajunya bangsa-bangsa jacket yg merek FILA (idih banget gak sih!)

Minus 10 banget Di (dan yg ini banget banget banget !!!!!) karena suka bawa makanan dari rumah
buat makan siang ke sekolah!!!! Gila yah Dimalu2in banget nggak sih!!!!
Sumpah ya Di, Vella malu banget  sama Dia Di,
Kayaknya mau putua aja deh Di.

.................
Dear Diary,
Hari ini Valentine, pas Evan ke kelas Vella mau ngasih kado, Vella cuma diem aja. Seharian itu Di,
Vella ngindarin Dia abis-abisan , Dia binguk gitu kayaknya Di, kenapa Vella ngindar terus. 
Sampek rumah Dia nelfon Vella, Vella males tapi ngomong sama Dia Di, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalo Vella belum pulang. Dia nelfon 4 kali hari itu tapi Vella males nerima.
KIra-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella ngindarin Evan pakek cara ke WC ceweklah atau ngumpet2 lah.
Dan dirumah Vella selalu gak mau nerima telfonnya. Kayaknya Vella bener2 udah IL-FEEL dan malu pacaran ma Dia Di !
Akhirnya waktu itu hari senin, seperti biasa pas disekolah Vella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Vella ngumpul ma temen2 Vella di kantin. Mereka pada nanya koq Vella ngindarin Evan terus; Vella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Vella ngaku juga. Vella ngomong, "Ah bete gue sama tuh cowok, udah ga ada modal mending lo gaul, dan mukanya setelah gue pikir2 biasa banget, ya ampun gue dulu koq mau ya jadian ma Dia? dipelet kali gue!!"
Tiba2 semua terdiam dan ngeliat ke arah punggung Vella, Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di ! ternyata Evan di belakang Vella dan kayaknya dia denger yg Vella baru ucapin barusan. Vella cuma bisa diem.
Tapi Vella sempet ngeliat Evan sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus Dia pelan2 pergi dari situ. Vella diem aja, ada beberapa temen Vella yg ngomong "hayo loe Vel, Dia denger lo!!" Tapi ada juga yg bilang , "udahlah Vell, baguslah dia denger, gak ada untungnya tetep sama Dia, ntar elo juga bisa dapet yg lebih bagus."
Bener juga yah Di. Ya udah Vella cuek aja,
syukurdeh lo Dia denger!!! Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.

Dua hari pun berlalu Di, dan sejak Evan udah nggak berusaha buat nyamperin Vella atau nelfon Vella lagi. 
Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja.
Semingu berlalu, 2 minggu berlalu sejak hari itu, Vella ngerasa ada sesuatu yg hilang Di,
nggak tau kenapa Vella mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang Vella suka bengong bingung sendirian,
cuma Vella berusaha buat ngilangin perasaan itu. Vella gak tau kenapa Vella jadi males mau ke mana2, pengennya sendiri aja, males ngapa2-in. Semua orang pada bingung kenapa Vella jadi kayak gini.
Vella juga nggak tau kenapa Di.

..................
Dear Diary,

Minggu malem ini Di, ujan deres banget, Vella diem dan merenung dalam kamar. Tiba2 di tv ada lagunya Janet Jackson D, Tau kan liriknya?  "Doesn't really matter what the eyes is seeing, cause im in love with the inner being."
Saat itu tiba2 Vella nangis Di, Vella baru sadar.... betapa baiknya Evan.... Vella nangis senangis-nangisnya Di, 
Karena Vella baru sadar betapa begonya Vella.

Minus 10 karena Evan nggak punya HP Di, tapi plus 100 karena tiap malem rela jalan jauh ke wartel
buat nelpon Vella buat ngucapin met bobok setiap hari......

Minus 10 karena Dia gak dibolehin nyetir sendiri ma ortunya karena belum 17 tahun Di, tapi plus 100 karena tiap malem minggu Dia rela naik sepeda jauh dari Kemang ke Bona Indah khusus ngapelin Vella biar ujan sekalipun..

Minus 10 karena Dia rambutnya cuma botak biasa dan gak suka di spike, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut
Vella apapun entah itu lagi bagus atau sedang jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model sekalipun,
Dia selalu bilang Vella cantik banget.....

Minus 10 karena Dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena Dia rela nemenin Vella ke tempat2 kayak gtu,
meski Dia nggak suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang larut malam nemenin Vella... dengan naik taksi kerumahnya.....

Minus 10 karena Evan nggak punya Jacket XSML
dan hanya punya jacket FILA biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan disekolah Dia selalu minjemin Vella jacketnya 
meski Dia sendiri kedinginan.........

Minus 10 karena Dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata Dia nabung uang jajan makan siangnya buat beli kado Valentine Vella......

Dari 60 minus yg Evan punya Di, Dia punya semiliar kebaikan...
Ya tuhan Di, betapa begonya Vella yah.... Vella yg beruntung sebenarnya punya cowok Evan, dan Vella juga yg udah nyakitin Evan, padahal Evan gak pernah nyakitin Vella sealipun. Malemnya Vella nangis lama banget Di.

..................
Dear Diary,

Vella ketemu sama Evan disekolah, Vella kejar Dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja.
Tapi pulang sekolah Dia nanya Vella mau ngomong apa.
Vella kasih Dia kartu buatan Vella, Vella cium pipi Dia dan Vella bilang minta maaf karena Vella udah nyakitin dia,
 Dia cuma diem aja terus pulang.

Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella yg berbuat, Vella juga yg kehilangan.... sakit banget rasanya Di, 
Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yg bikin dan Vella pula yg nanggung resikonya..
malem itu tiba2 mama ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon. Ternyata bener Di itu Evan, Dia udah
maafin Vella, Dia udah lupain semuanya... Aduh Di, girang banget hati Vella,
hi hi hi hi hi hi hi.....senengnya. Nanti malem Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya
buat Evan, jadi Vella udahan dulu yah Di... Thx banget udah denger curhatnya Vella.

Vella belajar satu hal Di, hargailah apa yg kamu miliki sekarang, tanpa kamu sadari kamu begitu beruntung telah memiliki-nya. Selamat malem Diaryku.....
NB: Minus 10 Di karena mukanya tidak tampan,
       tapi plus 100 karena hatinya...
LUAR BIASA TAMPAN...... ;-) 

Kamis, 03 Maret 2011

KISAH CINTA SEJATI SEORANG ISTRI

Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum juga dikaruniai seorang anak pun yang mereka harapkan.
Karenanya walaupun masih saling mencinta, si suami berkeinginan menceraikan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasinya. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sedih dan duka yang mendalam, si istri akhirnya menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.
Dengan perasaan tidak menentu, suami istri itu menyampaikan rencana perceraian kepada orang tua mereka. Meskipun orang tua mereka tidak setuju, tapi tampaknya keputusan bulat sudah diambil si suami. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan alot, kedua orang tua pasangan itu dengan berat hati menyetujui perceraian tersebut. Tetapi, mereka mengajukan syarat, yakni agar perceraian pasangan suami istri itu diselenggarakan dalam sebuah sebuah pesta yang sama besarnya seperti pesta saat mereka menikah dulu.
Agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan mengadakan pesta perceraian itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Sungguh, itu merupakan pesta yang tidak membahagiakan bagi siapa saja yang hadir dalam pesta itu. Si suami tampak tertekan dan terus meminum arak sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara sang istri tampak terus melamun dan sesekali mengusap air matanya di pipinya. Di sela mabuknya si suami berkata lantang, “Istriku, saat kau pergi nanti. semua barang berharga atau apapun yang kamu suka dan kamu sayangi, Ambillah dan Bawalah !!“. Setelah berkata seperti itu, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.
Keesokan harinya, setelah pesta usai, si suami terbangun dari tidur dengan kepala berdenyut-denyut. Dia merasa tidak mengenali keadaan disekelilingnya selain sosok yang sudah dikenalnya bertahun-tahun yaitu sang istri yang ia cintai. Maka, dia pun bertanya “Ada dimakah aku ? Kenapa ini bukan di kamar kita ? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi ? tolong jelaskan.”
Si istri menatap penuh cinta pada suaminya dengan mata berkaca-kaca dan menjawab, “Suamiku, ini karena dirumah orang tuaku. Kemaren kau bilang didepan semua orang bahwa engkau berkata kepadaku, bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Di dunia ini tidak ada satu barang yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati selain kamu. karena itu kamu sekarang kubawa serta ke rumah orang tuaku. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu.”
Dengan perasaan terkejut setelah sesaat tersadar, si suami bangun dan memeluk istrinya, “Maafkan aku Istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa dalamnya cintamu padaku. Walaupun aku telah menyakitimu, dan berniat menceraikanmu, tetapi engkau masih mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun“.
Akhirnya kedua suami istri ini ini berpelukan dan saling bertangisan. Mereka akhirnya mengikat janji akan tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.