CINTA

Senin, 28 Februari 2011

AIR MENDIDIH


Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

Jumat, 25 Februari 2011

APAKAH ITU CINTA?

Bila telapak tanganmu berkeringat, 
Hatimu dag dig dug,
Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,
Itu bukan cinta, tetapi SUKA.

Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
Itu bukan cinta tetapi BERAHI.

Bila kamu menginginkannya karena tahu
Ia akan selalu berada di sampingmu,
Itu bukan cinta tetapi KESEPIAN.

Bila kamu menerima pernyataan cintanya
Karena kamu tak mau menyakiti hatinya,
Itu bukan cinta tetapi KASIHAN.

Bila kamu bersedia memberikan semua
Yang kamu sukai demi dia,
Itu bukan cinta tetapi KEMURAHAN HATI.

Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya
Kepada semua orang,
Itu bukan cinta tetapi KEMUJURAN.

Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah 
Satu-satunya hal yang kamu pikirkan,
Itu bukan cinta tetapi GOMBAL.

Kamu MENCINTAINYA,
Ketika kamu MENERIMA KESALAHAN DIA,
Karena itu adalah bagian dari kepribadiannya.

Ketika kamu RELA MEMBERIKAN HATIMU, KEHIDUPANMU, BAHKAN KEMATIANMU;

Ketika HATIMU TERCABIK BILA IA SEDIH,
dan BERBUNGA BILA IA BAHAGIA;

Ketika kamu MENANGIS UNTUK KEPEDIHANNYA
Biarpun ia cukup tegar menghadapinya;

Ketika kamu tertarik kepada orang lain
Tetapi kamu masih SETIA bersamanya.

CINTA adalah PENGORBANAN;

MENCINTAI berarti MEMBERI DIRI.

CINTA adalah KEMATIAN ATAS EGOISME dan EGOSENTRISME.

Kadang itu menyakitkan, tetapi itulah harga yang harus dibayar...
Untuk sebuah CINTA...

Semua diatas adalah kata perumpamaan, tapi 

Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi
dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.
Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

SAYA BERSAMAMU SAYANG

Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan 
yg saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka. Saat anak 
tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg 
terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk 
menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di 
dapur sama sekali melupakan hal tersebut. Anak itu melihat botol itu dan 
dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut 
lalu si anak memakannya semua. Obat tersebut adalah obat yg keras yg 
bahkan untuk orang dewasa pun hanya boleh digunakan dalam dosis kecil 
saja. Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit, tapi si anak 
tidak tertolong. Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus 
menghadapi suaminya. Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat 
anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan 
mengucapkan 3 kata.

PERTANYAAN :

1. Apa 3 kata itu ?

2. Apa makna cerita ini ?

JAWABAN :

Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG" Reaksi sang suami 
yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak 
sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya 
mencari-cari kesalahan pada sang istri. Lagipula seandainya dia 
menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk 
akan terjadi. Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan 
anak semata wayangnya. Apa yg si istri perlu saat ini adalah penghiburan 
dari sang suami dan itulah yg diberikan suaminya sekarang.

Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini 
maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini. 
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil" Buang rasa iri 
hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa 
sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.

MORAL CERITA

Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan org lain atau 
siapa yg salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan 
org yg kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam 
hubungan antar manusia.

PILIHAN SULIT

Disaat menuju jam-jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa dan mahasiswinya:
“Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”
Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran papan tulis.
DOSEN : Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda,pada papan tulis.
Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh mahasiswi tersebut. Ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.
DOSEN : Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting !
Mahasiswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.
DOSEN: Silahkan coret satu lagi!
Kemudian mahasiswi itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.
DOSEN: Silahkan coret satu lagi !
Mahasiswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.
Sampai pada akhirnya di atas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.
Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua Mahasiswa dan mahasiswi tertuju memandang ke arah dosen,dalam pikiran
mereka(para mahasiswa atau mahasiswi) mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh mahasiswi itu.
Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata,
“Silahkan coret satu lagi!”
Dengan pelahan-lahan mahasiswi itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat sulit.
Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.
DOSEN: Silahkan coret satu lagi!
Hatinya menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi.
Lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya.
Dalam sekejap waktu, terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.
Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya, “Orang terkasihmu bukannya Orang tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda,
anak adalah anda yang melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang
paling sulit untuk dipisahkan?
Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.
Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata,
“Sesuai waktu yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan
saya juga, yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”

Jumat, 11 Februari 2011

MENCARI PASANGAN

Ini kisah bertemunya dua orang sehabat yang sudah puluhan tahun berpisah. Mereka amat merindukan antara satu sama lain, berbincang, bersenda gurau sambil minum kopi di sebuah cafe.Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal2 nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.

"Mengapa sampai sekarang kamu belum menikah?" ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih membujang.

"Sejujurnya sampai sekarang ini saya masih


terus mencari wanita yang sempurna. Itulah
sebabnya saya masih membujang. Dulu waktu saya di Utara, saya berjumpa dengan wanita yang cantik yang amat bijaksana. Saya fikir inilah wanita ideal untuk saya dan sesuai menjadi isteri saya.Namun belakangan setelah itu pada masa berpacaran baru aku tahu dia sebenarnya amat sombong. Hubungan kami putus sampai disitu."

"Di Ipoh saya ketemu seorang perempuan yang cantik jelita ,ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama aku begitu takjub dan menyenangkan. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun setelah itu baru saya tahu, ia banyak tingkahlaku yg tak baik dan tidak bertanggung jawab."

"Dan ketika aku di JB, aku bertemu wanita yang manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan bila diajak berbicara, selalu menyambung perbincangan kami dan penuh humor. Tapi terakhir aku ketahui kalau dia dari keluarga yang berantakan yakni berpecahbelah dan selalu menuntut sesuatu yang kita tidak mampu memenuhinya. Akhirnya
kami berpisah."

"Saya terus mencari, namun selalu mendapatkan kekurangan dan kelemahan pada wanita yang saya temui. Sampai pada suatu hari, saya bertemu dengan wanita ideal yang saya dambakan selama ini. Ia begitu cantik, pintar, baik hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan sayang kepada orang lain. Saya fikir inilah pendamping
hidup saya yang dikirim oleh Tuhan untuk saya".

"Lantas", sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan "Apa yang terjadi? Mengapa kamu tidak terus meminangnya?".

Yang ditanya diam sejenak dan akhirnya dengan suara perlahan si bujang itu menjawab,

"Baru sekarang aku mengetahui bahawa ia juga sedang mencari lelaki yang sempurna".

Kesimpulan : Sudah diketahui maksud daripada cerita itu ? Nobody's perfect. Jadi jangan menyia-nyiakan apa yang sudah ada di hadapan kita ,belum tentu nanti kita mendapatkan yang lebih baik dari yang kita ada sekarang. Kalau kita mau mencari yang sempurna, check dulu diri kita sendiri, apakah sudah sempurna di hadapan orang lain.

MAWAR UNTUK IBU


Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang bunda yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil “saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”
Pria itu tersenyum dan berkata “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau”. Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal itu, hati pria itu menjadi terenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya.
Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya. (diadaptasi dari: Rose for Mama – C.W. McCall)

KENAPA MESTI MENJERIT

Suatu hari seorang guru bertanya kepada murid²nya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, dia akan berbicara dengan suara kuat atau menjerit?"
Seorang murid setelah berfikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Kerana ketika itu dia telah kehilangan kesabaran, lalu berteriak."

"Tapi..." guru itu balik bertanya, "lawan bicaranya berada dekatnya. Mengapa harus berteriak? Apakah dia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira betul menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawapan yang memuaskan.

Guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fizik mereka begitu dekat. Kerana itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin kuat mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Kerana itu mereka terpaksa menjerit lebih kuat lagi."

"Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya dapat mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.

Mereka nampaknya berfikir amat dalam namun tak seorang pun berani memberikan jawaban.

"Kerana hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak sehingga sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika kamu sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, TAK mengucapkan kata² mungkin merupakan cara yang BIJAKSANA. Kerana waktu akan membantumu."




Kamis, 10 Februari 2011

KADO KOTAK KOSONG


Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado.
Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.
"Untuk apa?" tanya sang ayah.
"Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil.
"Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan
kecil.

Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan
ayahnya, "Pa, Pa ada hadiah untuk Papa."
Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab,
"Sudahlah nanti saja."
Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa, sudah siang."
"Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."
Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.
"Hadiah apa nih?"
"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang."
Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. 
Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong.
Tidak berisi apa pun juga. "Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq
kosong.Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?"

Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu
buaanyaak ciuman untuk Papa."
Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya.
Dipeluknya, diciumnya.
"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu
menyimpan boks ini.
Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa
akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !"

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki
nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu
tinggi. Apa yang terjadi ?
Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah,
di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan
tetap menganggapnya kotak kosong.

CINTA TAK BERSYARAT

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia
 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku
 menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih
 sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
 
 Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar
 melirik ke jam tangannya.
 Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang
 aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan
 kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan
 yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku
 putuskan untuk melakukannya sendiri.
 
 Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain
 hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak
 ke rumah jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang
 dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah
 dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit
 Alzheimer.
 
 Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat.
 Dia menjawab bahwa  istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak
 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, Dan Bapak masih
 pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi? Dia
 tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, Dia memang
 tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?
 
 Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih
 tetap merinding, Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam
 hidupku.
 
 Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
 Cinta sejati  adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi,
 yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
 
 Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang
 paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik,
 mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup
 bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di
 tengah hujan.

Rabu, 09 Februari 2011

DOA SEORANG SAHABAT



Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang dapat menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat pergi ke daerah berasingan dan mereka tinggal berjauhan.

Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian. Lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan isteri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki pertama tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apa.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan isterinya dapat meninggalkan pulau itu.

Pagi siang hari mereka menemui kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan isterinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima keajaiban tersebut kerana doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Apabila kapal siap berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari langit, "Hai. Mengapa engkau meninggalkan rakanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"

"Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya kerana doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki pertama.

"Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa,"

"Kau salah!" suara itu bertempik.

"Tahukah kau bahwa rakanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

Lelaki pertama bertanya, "Doa macam apa yang dia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?"

"Dia berdoa agar semua doamu dikabulkan"

HATI SEORANG AYAH


Salah satu penyesalan terbesar dalam hidupku adalah tak bisa membuat ayahku bahagia melihat anak lelaki satu-satunya. 

(HATI SEORANG AYAH)
Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok, disertai suara batuk-batuknya.

Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok ?"

Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang berehat di beranda.

Si ayah menjawab : "Sebab aku lelaki."

Anak perempuan itu berkata sendirian : "Saya tidak mengerti".

Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya membuatnya termenung rasa kebingungan.

Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki."

Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah kebingungan.

Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."

Hanya itu jawapan si ibu. Si anak itupun kemudian membesar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok?

Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah- olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawapan rasa kebingungannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindung."

"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting- tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya".

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan kesejukan kerana tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih- payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya".

"Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.

Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesedaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga ( seri / penyokong ), agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."